Idealisme Agung


Written on 8 February 2010 – 12:14 | by krismansyah

Bagaimana kamu melihat peran mahasiswa dewasa ini?

Mungkin jika dibandingkan dengan angkatan ’66 atau angkatan ’98, gerakan mahasiswa sekarang bisa dibilang sudah kehilangan jati diri, setengah-setengah, kurang solid dan selalu terjebak dalam kepentingan-kepentingan yang ditengarai bersumber dari partai politik.

Jangan tanyakan mengapa itu bisa sampai terjadi. Coba sesekali kamu tengok ke dalam kampus-kampus. Seberapa banyak mahasiswa yang mengisi kedinamisan kampus dengan kegiatan-kegiatan bernuansa ilmiah?

Menurut teman saya, banyak mahasiswa sekarang yang terjebak dalam budaya hedonisme. Mereka lebih senang hidup bersenang-senang, ketimbang menginsyafi peran mereka sebagai agent of change.

Di antara sedikit mahasiswa yang memiliki idealisme di jantungnya, saya mengenal Ade Agung Gunawan Warja.

Agung, begitu dia biasa dipanggil, adalah seorang mahasiswa di kampus Akademi Pimpinan Perusahaan yang berbeda dari mahasiswa-mahasiswa pada umumnya. Di saat yang lain disibukan dengan segala aktifitas ‘ngepop’, Agung beserta kawan-kawannya tidak pernah berhenti menyelenggarakan kegiatan yang mencerminkan budaya ilmiah di Perguruan Tinggi. Pernah Agung menyelenggarakan acara bedah kasus skandal bank Century yang menghadirkan seorang alumni, namun bisa ditebak berapa orang yang hadir. Bisa dihitung dengan jari. Tidak lebih dari 10 orang.

“10 orang inilah mahasiswa-mahasiswa terpilih. Insya Allah mereka akan menjadi virus-virus intelektualitas yang menyebarkan kebenaran ke segenap penjuru dunia.” Begitu kata Agung sewaktu saya ungkit-ungkit mengenai jumlah mahasiswa yang datang ternyata masih jauh dari target yang diharapkan.

Oke, oke, oke. Agar lebih jelas lagi akan saya ceritakan bagaimana Agung merubah cara pandang dan membuat jiwa mahasiswa kami menjadi berkobar sedemikian hebatnya.

Sewaktu musibah Situ Gintung terjadi, Agunglah mahasiswa pertama di kampus Akademi Pimpinan Perusahaan yang sangat responsif. Dia langsung menggagas untuk segera membentuk sebuah badan yang kemudian hari diberi nama KORMAPP (Korps Mahasiswa APP). Di pagi hari itu Agung bergegas membuka meja, meyebarkan tulisan yang menyentuh mengenai begitu dahsyatnya dampak bencana bagi masyarakat sekitar. Selanjutnya, Agung mencoba menghimpun mahasiswa –mahasiswa yang bersedia menjadi sukarelawan. Pagi, siang, sore, Agung selalu memutar otak bagaimana caranya agar KORMAPP bisa segera turun ke lokasi bancana. Bahkan, demi proyek kemanusiaan ini, Agung sampai melupakan kewajiban utamanya sebagai mahasiswa, yaitu belajar.

Segala keringat dan jerih payah Agung nampaknya membuahkan hasil. Tercatat setidaknya 50 orang mahasiswa yang berkomitmen untuk diterjunkan sebagai sukarelawan di Situ Gintung. Tidak hanya sampai di sana saja. Beberapa bulan setelah bencana, di saat banyak orang melupakan musibah besar tersebut, Agung malah semakin disibukan dengan kegiatan-kegiatannya yang bertujuan sebagai trauma healing khususnya untuk anak-anak korban bencana. Hingga pada suatu hari Agung menggagas untuk mengadakan semacam acara panggung. Kebetulan saat itu tepat sekali dengan peringatan hari bumi. Ada berbagai macam acara, dari mulai seminar tentang lingkungan yang menghadirkan aktifis Walhi sebagai pembicaranya, pembagian pohon, lomba mewarnai, pentas musik dan menonton film bersama.

Begitu acara selesai, anak-anak kecil di sana tersenyum puas penuh rasa gembira, karena setidaknya mereka masih dianggap ada. Begitu pula dengan Agung, otak di balik ini semua.

Namun celakanya, orang-orang seperti Agung inilah yang kerap dipandang sebelah mata oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya. Mereka menganggap Agung sebagai orang yang tidak punya pekerjaan. Belum lagi, bila mengingat gaya berpakaian Agung yang ‘semau gue sendiri’. Rambutnya gondrong, baju dan celana jarang diganti walau sudah seminggu dikenakan, selalu memakai sepatu boots tebal ala anak punk. Sangat unik dan sekali lagi saya tekankan kalau dia itu berani tampil beda.

Sudahlah, mari kita samakan dulu persepsi bagaimana idelanya seorang mahasiswa bertindak dan berperilaku. Boleh jadi secara fisik, Agung ini jauh tertinggal dibanding mahasiswa hedon yang tiap minggu gonta-ganti model rambut, tetapi dari sisi idealisme, Agung patut menjadi inspirasi bagi kita semua. Tindakannya memang belum sampai mengubah dunia, belum berpengaruh terhadap tatanan politik Indonesia, tapi bila kita lihat dari sisi yang lebih kecil, Agung telah mempunyai nama dan berpengaruh. Ya setidaknya di kampus Akademi Pimpinan Perusahaan, nama Agung sudah setara populernya dengan Presiden Mahasiswa sekalipun.

Tags: ,

Menarik Diri, Menyepi


Written on 6 February 2010 – 20:14 | by krismansyah

Aku ingin hidup tenang
Menarik diri dari keramaian
Perihal dunia membuat gelap mata
Memputihkan yang hitam, menghitamkan yang putih

Rasa-rasanya tabiat dunia memang seperti itu

Sulit untuk menjadi bersih di antara yang kotor
Sukar untuk menjadi baik diantara yang buruk
Tak bisa menjadi putih diantara yang hitam

Sialnya, pilihan yang diberikan dunia bukan hanya bersih dan kotor, baik dan buruk, hitam dan putih

Lebih baik aku menyepi
Menarik diri dan hidup sendiri

Depok, 20 Desember 2009

Ingin


Written on 27 October 2009 – 18:46 | by krismansyah

Ingin punya mobil mewah

Ingin punya rumah bagus

Ingin punya istri cantik

Ingin punya uang banyak

Ingin punya jabatan terhormat

Ingin disegani oran banyak

Ingin berpengaruh

Dan yang paling penting, ingin masuk surga

Tags:

Pemuda Dodol + Kota Tua = Reunian


Written on 3 October 2009 – 16:53 | by krismansyah

Hai… hai… hai…

Selamat pagi semua. Apa kabar nih? Apakah kalian di sana baik-baik saja?

Langsung aja yah…

Beberapa waktu yang lalu atau tepatnya pas libur panjang lebaran, gua sempet ngumpul-ngumpul sama temen SMA. Rasanya kangen banget. Bayangin, semenjak lulus SMA beberapa tahun lalu, kita emang jarang banget ketemu. Ada yang kuliah di Jogja, kuliah di Bogor, kerja di PLN, cuman gua doang yang betah tinggal di Depok.

Hari senin, dengan jadwal kumpul yang kacau balau akibat adanya miskomunikasi akhirnya kita berangkat dari rumah Rian ke Kota Tua. Rencananya kita bakal melepas kerinduan sambil photo-photo di sana. Dengan menggunakan mobil yang dipinjem secara paksa dari bokapnya Rian, kita langsung cabut. Ternyata, setelah lama nggak ketemu sama Rian, itu orang belom berubah. Dia ngendarain mobil kayak orang abis nenggak minuman keras. Rian nyetir dengan kenuh kekelapan. Banting setir ke kiri, banting setir ke kanan. Dengan gaya kayak gitu dia sebenernya udah cocok buat jadi supir metromini. Tinggal para penumpangnya aja yang jantungan. Cemas, was-was, takut bukannya nyampe di kota tua, malah nyampe di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Gua: Awas… di depan ada angkot!!! *gua menjerit histeris*

Rian: *banting stir ke kanan, menambah kecepatan* Kalem aja, Kris. Kalem…

Semua penumpang langsung diem seribu bahasa. Dengan tidak lupa membaca Al-Fatehah kita pun sudah siap menerina kemungkina terburuk sekalipun. Dan, kita nggak jadi mati bareng. Rian berhasil menyalip mobil yang ada di depan sepersekian detik sebelum mobil yang dia kendarain disundul sama truk bermuatan ayam negeri.

Sekitar satu jam kemudian sampailah kita di Kota Tua.

pemuda-dodol-1

*dari kiri ke kanan: gua, Maryo, Rendy, Rian.

Bukan, bukan gara-gara abis minum spirtus kita jadi mabok dan bergaya aneh seperti itu. Nggak lain karena usulan Maryo, dia bilang keren aja kalo kita bergaya ala Teletubies. Dalem hati gua, keren kagak kayak orang sarap iya!

pemuda-dodol-21

*dari kiri ke kanan: gua, Maryo, Rendy, Rian.

Anda bingung kenapa kami bergaya begitu sambil tersenyum genit? Berikut dialog di antara kia berempat.

Gua: Ayo kita photo di deket pohon.

Maryo: Boleh.

Rendy: Tapi gayanya yang aneh ya.

Rian: *mikir sebentar lalu ngatur* Okey gua dapet ide. Lo, Kris, bergaya sambil monyongin mulut. Maryo sambil ngedipin mata. Rendy sambil ngejinjitin kaki…

Gua: Lo gaya apaan?

Rian: Gua merem sambil meletin lidah…

Dan, inilah dua photo terakhir yang kita jepret di sana.

pemuda-dodol3


*dari kiri ke kanan: Rahmat, Pria Tampan, Maryo, Rendy, Rian.

pemuda-dodol-4

*dari kiri ke kanan: Chehe, Maryo, Rian, Orang Ganteng, Rahmat, Rendy.


Fiuuuh, gua bener-bener kangen sama mereka, kangen masa-masa SMA, kangen saat kita masih ngeband dulu, saat ngutang di kantin, saat ikut pensi, atau sama-sama cengok saat ketauan lagi manjat tembok buat cabut dari sekolah sama Bu Intan. Semoga pershabatan ini nggak lekang di makan waktu. Ingat kata pepatah: bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi. Hehehehe, apa hubungannya?

Tags:

Nasionalisme Panjat Pinang


Written on 21 August 2009 – 10:38 | by krismansyah

Ada yang tahu sejarah permainan panjat pinang?

Saya tidak tahu persis, tapi menurut guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan saya waktu SMA dulu, permainan panjat pinang konon berasal dari warisan penjajah Belanda. Walaupun tidak diketahui secara pasti sejak kapan permainan panjat pinang sudah mulai dipertontonkan. Jauh sebelum Republik ini merdeka, panjat pinang kerap digelar oleh orang Belanda, entah itu pada saat merayakan hari ulang tahun, resepsi pernikahan atau bahkan pesta kenaikan pangkat.

Hadiah yang diperebutkan saat zaman Belanda dulu biasanya berupa berbagai jenis makanan, keperluan sandang, dan lain sebagainya. Warga pribumi sebagai peserta lomba panjat pinang harus saling injak, bahu-membahu untuk memanjat pohon pinang yang licinnya bukan buatan. Selagi orang-orang pribumi bersimbah keringat dan berebut menggapai ujung pohon pinang setinggi 5-7 meter itu, para orang Belanda hanya menonton dan tertawa terkekeh-kekeh sambil sesekali mulutnya menikmati makanan lezat.

Ironis memang, tapi itu kenyataan, Bung.

Jika menelisik akar sejarah yang seperti itu, wajar bila hingga saat ini masih ada pro dan kontra dikalangan masyarakat mengenai tradisi panjat pinang yang kerap diadakan ketika Republik tercinta ini merayakan hari jadinya. Ada pihak yang berpendapat agar permainan panjat pinang dihentikan saja lantaran tidak manusiawi, tidak memanusiakan manusia. Tetapi tidak sedikit pihak yang mendukung agar permainan panjat pinang terus diadakan. Mereka menilai bahwa banyak filosofi yang bisa dipetik dari permainan itu.

Warga Rt.01, Rw.08, kelurahan Pancoran Mas, kota Depok adalah salah satu pihak yang mendukung dan selalu mengadakan lomba panjat pinang di setiap tahunnya. Saya sendiri pernah beberapa kali ikut lomba itu. Meskipun bentuk badan saya kurus kering layaknya penderita busung lapar di Ethiopia, saya tetap nekat dalam rangka memeriahkan HUT Republik Indonesia yang datangnya hanya sekali dalam satu tahun.

Pengalaman menarik tentang berpanjat pinang ria terjadi sekitar 2 tahun yang lalu.

Sore hari, jam menunjukan pukul 15.00 WIB. Setelah beraneka ragam lomba untuk anak-anak seperti balap karung, makan kerupuk, bakiak, meniup balon dan menangkap belut dilangsungkan, kini saatnya seluruh panitia berkumpul untuk menjadi peserta dalam sebuah permainan yang memang menjadi klimaks setiap 17-an.

Pohon pinang sudah didirikan. Batangnya terlihat menghitam karena telah dilumuri oli dan gemuk. Dilihat dari kejauhan saja sudah ketahuan kalau batang pohon pinang yang menjulang itu luar biasa licin. Saya dan beberapa panitia 17-an yang berjenis kelamin laki-laki sudah bertelanjang dada dan siap untuk beraksi. Sementara itu, para ibu rumah tangga (baca: panitia 17-an yang berjenis kelamin perempuan) tengah menyiapkan makanan dan tak lupa juga menyiapkan minuman penambah stamina tubuh.

Kali ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Sesuai ketentuan yang berlaku, setiap kelompok diberi kesempatan secara bergantian memanjat pohon pinang untuk merebut hadiah-hadiah yang telah digantung di puncak pohon pinang.

Bersama lagu Kucing Garong yang mengalun dari tape butut di meja panitia, permainan panjat pinang pun resmi dimulai. Satu per satu kelompok maju dan berupaya membuat ‘tangga hidup’, saling menggendong dan menginjak bahu. Tak jarang dari mereka ada yang merosot bahkan terjatuh waktu ‘mengakali’ pohon pinang. Makin tinggi merosotnya dan makin parah posisi jatuhnya, penonton makin terhibur. Mereka tertawa sambil sesekali menunjuk ke arah orang yang bernasib sial itu.

Kini tiba giliran kelompok saya yang kebagian memanjat pinang. Tidak hanya cukup memakai otot, kami pun memutar otak untuk menemukan strategi bagaimana caranya agar berhasil sampai di puncak pohon pinang. Dengan menggunakan kaos anggota kelompok, kami mengelap oli dan gemuk yang ada di batang pinang. Setelah dirasa cukup kering dan tidak begitu licin lagi, lalu mulailah kami saling bekerja sama. Kami merelakan pundak diinjak oleh teman satu kelompok, bahu-membahu, saling menggendong. Karena sekali lagi mengingat bentuk tubuh saya yang kurus kering layaknya penderita busung lapar di Ethiopia, saya memilih berada di posisi paling atas, sebuah posisi yang bertugas melakukan eksekusi, bukan posisi bawah yang diinjak-injak. Bisa mejret badan saya kalau diinjak anggota lain yang jelas-jelas berbadan seperti king-kong. Namun, belum setengah pohon pinang saya panjat, saya sudah melorot. Bukan karena saking licinnya, tetapi lebih disebabkan sayanya saja yang kurang berkompeten dalam urusan manjat-memanjat.

Dua jam berlalu dan belum ada satu kelompok pun yang berhasil mencapai puncak pohon pinang. Ketika semua orang bersimbah keringat, kecapekan dan berputus asa. Mantan ketua Rt.01 Rw.08, kelurahan Pancoran Mas, kota Depok yang bernama Bapak Udin maju ke depan, mengambil mikrofon dan berbicara dengan lantang.

“Hai pemuda-pemuda, janganlah kalian berputus asa. Perjuangan kalian dalam memanjat pohon pinang ini tidak seberapa jika dibandingkan perjuangan para pahlawan yang mengorbankan harta bahkan nyawa mereka sendiri guna merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Lihat bendera merah putih yang ada di puncak pohon pinang sana! Kalian harus meraih bendera itu. Rebut bendera itu. Ayo berdiri. Lanjutkan perjuangan kalian. Kunci untuk sebuah keberhasilan tidak sulit, kalian hanya harus bekerja keras, bekerja sama dan mengutamakan kekompakan!”

Bukan main berapi-apinya Bapak Udin ketika berbicara tadi. Kata-katanya itu seolah menjadi cambuk bagi kami untuk meneruskan perjuangan. Tiga kelompok yang ada melebur menjadi satu. Sekarang ada 12 pemuda yang siap bekerja sama untuk menggapai sang Merah-Putih di ujung sana. Iya, rangkaian kata Bapak Udin tadi menyadarkan kami bahwa mengibarkan sang Dwi Warna jauh lebih penting ketimbang baju koko, ikan asin, kaos oblong, dan jam dinding yang digantung sebagai hadiah. Kami harus menggapai sang Merah-Putih. Kami harus mengibarkan sang Dwi Warna di puncak tertinggi pohon pinang!

Karena baterai nasionalisme ditambah lagi dengan semangat yang terus dipompa, kami semua berusaha membuat ‘tangga hidup’ yang sangat kokoh. Bayangkan, ada 12 pemuda bertelanjang dada, bersimbah keringat dan basah-basahan menjadi satu di sana. Di ‘tangga hidup’ itu, saya ada di posisi tengah-tengah. Upay, salah seorang pemuda yang terkenal paling lincah, menginjak bahu saya. Astaga, berat sekali manusia yang satu itu. Selincah monyet-monyet yang ada di hutan berantara, Upay memanjat pohon pinang yang sudah tidak selicin tadi. Semua penonton bersorak-sorai ketika tangan Upay nyaris berhasil meraih bambu yang dibuat meligkar. Upay sudah hampir berada di puncak pohon pinang. Sementara itu, saya dan kawan-kawan lainnya sudah merosot dan terkapar di tanah. Upay, dengan tenaga yang masih tersisa berjuang sendiri untuk meraih sang Merah-Putih.

Kami terdiam, berdebar-debar melihat Upay di atas sana. Kami berdoa agar Upay diberi kekuatan untuk benar-benar mencapai puncak. Saya lihat Upay berusaha sekuat tenaga, dia mengumpulkan seluruh kekuatan pada telapak kaki, lalu dengan menggunakan batang pinang sebagai pijakan, Upay mendorong tubuhnya hingga sampai di atas. Dia berhasil! Upay telah berhasil sampai di puncak pohon pinang. Dia tidak langsung mencopot jam dinding, baju koko, mie instant, ikan asin dan hadiah-hadiah lainnya. Upay mengincar sang Merah-Putih. Dia mencabut sang Dwi Warna lalu mengibarkannya ke kanan dan kiri. Jantung kami bergetar menyaksikan perbuatan heroik Upay. Inilah nasionalisme panjat pinang yang telah mengajarkan kami untuk tidak cepat putus asa, untuk tetap bekerja keras, bekerja sama dan selalu mengedepankan kekompakan.

Dari puncak pohon pinang, dengan bertelanjang dada, berkeringat dan seluruh tubuh dipenuhi kotoran, Upay berteriak lantang.

“Merdeka! Sekali merdeka, tetap merdeka! Merdeka! Merdekalah negeriku untuk selama-lamanya!”

Tags:

Bangunlah Putra Putri Pertiwi


Written on 17 August 2009 – 12:30 | by krismansyah

Di bawah ini ada sebuah lagu dari Bang Iwan Fals. Cocok untuk membangun semangat nasionalisme kita yang makin hari makin pudar..

***

Sorot matamu tajam namun ragu

Kokoh paruhmu semua tahu

Tegak tubuhmu takkan tergoyahkan

Kuat jarimu kala mencengkram

Pulau-pulau yang berpencar

Bersatu dalam cengkrammu

Angin genit mengelus merah putihmu

Yang berkibar sedikit malu-malu

Merah darahmu tertanam di dada

Putihmu suci penuh kharisma

Bermacam suku yang berbeda

Bersatu dalam kibarmu

TERBANGLAH GARUDAKU

Singkirkan kutu-kutu di sayapmu

BERKIBARLAH BENDERAKU

Singkirkan benalu di tiangmu

Hei jangan malu dan jangan ragu

TUNJUKKAN PADA DUNIA

Bahwa sebenarnya kita MAMPU

Mentari pagi mulai membumbung tinggi

Bangunlah putra putri ibu pertiwi

Mari mandi dan gosok gigi

Setelah itu kita BERJANJI

Hari ini esok pagi atau lusa nanti

GARUDA BUKAN BURUNG PERKUTUT

SANGSAKA BUKAN SANDANG PEMBALUT

Dan coba kau dengarkan

PANCASILA itu BUKANLAH RUMUS KODE BUNTUT

Yang hanya berisi harapan

Yang hanya berisi khayalan

Tags: ,